Gandeng Menaker Yassierli, IJTI Siapkan Jurnalis Mandiri Hadapi Gempuran Era Digital
Pengurus Pusat IJTI melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta-Foto: Ist-
Jakarta, RADARTVNEWS.COM - Disrupsi digital terus mengubah lanskap industri media. Di tengah gelombang perubahan itu, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mengambil langkah strategis dengan menggandeng pemerintah untuk memastikan jurnalis tak tertinggal, apalagi tersingkir.
Pengurus Pusat IJTI melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., di kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan awal dari kolaborasi penting untuk memperkuat ekosistem pers nasional di tengah tantangan digital yang kian masif.
Dari pertemuan tersebut, IJTI dan Kemnaker sepakat menjalin kerja sama konkret dalam peningkatan keahlian dan kompetensi jurnalis, khususnya melalui penguasaan platform digital. Kesepakatan ini menjadi angin segar di tengah ketidakpastian industri media yang berdampak langsung pada nasib para pekerja pers.
Komitmen Menaker: Upskilling dan Reskilling Jurnalis
Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli menyambut positif inisiatif IJTI dan menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir mendampingi transformasi tenaga kerja, termasuk di sektor media.
Menurutnya, disrupsi digital adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, namun dapat dihadapi dengan kesiapan kompetensi yang tepat.
BACA JUGA:Polemik Berakhir? Polda Metro Jaya Hentikan Kasus Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis
BACA JUGA:Pendiri Google Sergey Brin dan Larry Page Tinggalkan California, Takut Kena Pajak Miliader?
“Kami di Kemnaker melihat bahwa disrupsi digital harus direspons dengan penguatan keterampilan. Kolaborasi dengan IJTI ini sangat strategis untuk mendorong upskilling dan reskilling jurnalis secara berkelanjutan,” ujar Prof. Yassierli.
Guru Besar ITB tersebut juga memberi perhatian khusus pada jurnalis yang terdampak efisiensi perusahaan media, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja.
“Bagi rekan-rekan jurnalis yang terkena layoff, kami siapkan pelatihan intensif berbasis platform digital. Tujuannya bukan sekadar agar mereka kembali bekerja, tetapi agar memiliki kapasitas baru sebagai mediapreneur yang mandiri dan berdaya saing,” tegasnya.
Menuju Jurnalis Mandiri dan Adaptif
Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menilai kolaborasi ini sebagai langkah penting untuk mengubah pola pikir dan pola kerja jurnalis di era digital.
Ia menegaskan bahwa program yang disiapkan tidak hanya bertujuan mempertahankan profesi jurnalis, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya jurnalis-jurnalis yang adaptif dan mandiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
