BANNER HEADER DISWAY HD

Perbedaan Intoleransi Laktosa vs Alergi Susu: Banyak yang Salah Kaprah

Perbedaan Intoleransi Laktosa vs Alergi Susu: Banyak yang Salah Kaprah

Ilustrasi--Istimewa

RADARTVNEWS.COM - Masih banyak masyarakat yang sulit membedakan antara intoleransi laktosa dan alergi susu, padahal keduanya memiliki mekanisme yang sangat berbeda. Kesalahpahaman ini sering berujung pada salah diagnosa, pembatasan makanan yang tidak perlu, atau justru mengabaikan kondisi yang lebih serius. Mengingat produk susu merupakan sumber nutrisi penting, pemahaman yang tepat menjadi sangat krusial agar tidak terjadi miskonsepsi dalam menerapkan pola makan.

Intoleransi laktosa merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa, yaitu gula alami dalam susu, akibat kekurangan enzim laktase. Ketika laktosa tidak terurai, bakteri di usus besar memfermentasinya dan menyebabkan gejala seperti kembung, gas, diare, hingga kram perut. Kondisi ini tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh dan umumnya tidak berbahaya, meskipun sangat mengganggu kenyamanan.

Sebaliknya, alergi susu adalah reaksi sistem imun terhadap protein pada susu, biasanya kasein atau whey. Tubuh menganggap protein tersebut sebagai ancaman dan memicu respon imun yang dapat muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah konsumsi. Gejalanya dapat berupa ruam, gatal-gatal, muntah, bengkak pada bibir atau wajah, kesulitan bernapas, hingga anafilaksis. Karena melibatkan sistem kekebalan, alergi susu berpotensi jauh lebih serius dibanding intoleransi laktosa.

Perbedaan mekanisme ini membuat dampaknya tidak dapat disamakan. Intoleransi laktosa hanya memengaruhi sistem pencernaan, sementara alergi susu bisa memengaruhi kulit, saluran napas, dan sistem peredaran darah. Hal inilah yang sering tidak dipahami masyarakat, sehingga banyak yang mengira diare setelah minum susu otomatis berarti alergi, padahal sangat mungkin itu hanya intoleransi.

Alergi susu lebih banyak ditemukan pada bayi dan anak-anak, dengan prevalensi sekitar 2–3% secara global. Banyak anak yang pulih dari alergi susu saat menginjak usia sekolah. 

Sebaliknya, intoleransi laktosa lebih sering dialami oleh remaja dan dewasa karena produksi enzim laktase cenderung menurun seiring pertambahan usia. Populasi Asia, termasuk Indonesia, memiliki angka intoleransi laktosa yang cukup tinggi.

BACA JUGA:Fun fact Second Brain di Perut Usus Ternyata Bisa Mengatur Mood dan Emosi

Gejala kedua kondisi ini pun berbeda jauh. Intoleransi laktosa tidak akan menyebabkan ruam atau pembengkakan, dan tidak pernah memicu anafilaksis. Sementara itu, alergi susu tidak menyebabkan gas berlebih atau fermentasi laktosa dalam usus. 

BACA JUGA:Susu Kedelai, Alternatif Sehat Kaya Gizi yang Bermanfaat untuk Tubuh

Karena itu, sangat penting untuk mengetahui kondisi mana yang dialami agar langkah penanganannya tepat dan aman.

Diagnosis alergi susu biasanya dilakukan dengan skin prick test atau pemeriksaan kadar IgE. Intoleransi laktosa didiagnosis melalui hydrogen breath test atau tes toleransi laktosa. Diagnosis profesional membantu mencegah salah kaprah dan memastikan bahwa pasien tidak membatasi asupan nutrisi tanpa alasan medis.

Penanganan intoleransi laktosa lebih fleksibel dibanding alergi susu. Penderitanya sering kali masih bisa mengonsumsi produk susu rendah laktosa, yoghurt, keju tua, atau susu bebas laktosa. Bahkan beberapa orang dapat mentoleransi jumlah laktosa dalam porsi kecil. Sedangkan penderita alergi susu harus menghindari semua bentuk protein susu secara ketat.

Bagi pengidap intoleransi laktosa, aktivitas belanja kebutuhan sehari-hari (groceries) sering menjadi tantangan. Mereka perlu lebih teliti membaca label makanan yang mungkin mengandung laktosa tersembunyi, seperti roti, sereal, cokelat, saus salad, sup instan, margarin, hingga beberapa jenis obat kunyah. 

Pilihan yang aman meliputi susu bebas laktosa, susu nabati (almond, oat, kedelai), yoghurt probiotik, keju tua, serta makanan bertanda lactose-free atau non-dairy. Produk fermentasi umumnya lebih tolerable karena sebagian laktosa sudah terurai. Membawa daftar alternatif aman saat belanja dapat sangat membantu.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: