Langit Sumatera Kian Merah: Tindakan di Hari Konservasi Alam
--Freepik
BANDAR LAMPUNG, RADARTVNEWS.COM - Langit yang dulu biru di atas Sumatera kini diselimuti semburat merah keabu-abuan, bukan karena senja, tapi karena asap yang menyesakkan. Ironisnya, semua ini terjadi tepat ketika dunia memperingati Hari Konservasi Alam Nasional, tanggal 28 Juli, hari yang seharusnya mengingatkan kita pada pentingnya menjaga warisan bumi, bukan menyaksikan kehancurannya.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam Pulau Sumatera.Berdasarkan pantauan satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melalui sistem FIRMS (Fire Information for Resource Management System), pada Sabtu, 19 Juli 2025, ratusan titik panas terdeteksi tersebar di berbagai provinsi. Peta interaktif FIRMS (Fire Information for Resource Management System), menunjukkan persebaran titik api berdasarkan citra dari dua sensor utama yaitu, MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) dan VIIRS (Visible Infrared Imaging Radiometer Suite), yang diperbarui secara real-time setiap 3 jam.
Dalam tampilan khusus dengan koordinat pusat di 101.4° BT, -0.7° LS, konsentrasi titik panas mendominasi wilayah tengah pulau, khususnya Riau, Jambi, dan Sumatera Barat. Titik-titik berwarna merah (dengan tingkat kepercayaan tinggi) dan oranye (sedang) tampak jelas di kawasan hutan, sempadan perkebunan, dan lahan gambut.
Menurut data resmi dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) yang dirilis melalui situsnya, Riau mencatat 259 titik panas aktif, menjadikannya provinsi dengan tingkat kebakaran tertinggi hari itu. Sumatera Utara dan Sumatera Barat menyusul dengan total gabungan lebih dari 290 titik panas lainnya. BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau 2025 dipengaruhi oleh kondisi El Niño lemah hingga sedang, meningkatkan potensi kekeringan dan karhutla.
BACA JUGA:Kebakaran Hebat Diduga Terjadi di Dekat Kantin Kampus A UIN Raden Fatah Palembang
Dampaknya kini mulai terasa. Dikutip dari media lokal seperti Kompas dan Antara menyebutkan bahwa wilayah seperti Pekanbaru, Dumai, dan Padang Panjang mulai terpapar kabut asap ringan hingga sedang, dengan kualitas udara menurun signifikan. Masyarakat melaporkan iritasi mata, batuk kering, hingga gangguan pernapasan ringan. Jika tren ini berlanjut, krisis kabut asap seperti tahun 2015 bisa kembali terulang.
Di lapangan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Manggala Agni telah memulai operasi tanggap darurat. Patroli darat dan udara dilakukan di wilayah prioritas seperti Rokan Hulu, Rokan Hilir, dan Kampar. Namun, keterbatasan armada dan sulitnya medan gambut yang terbakar di bawah permukaan memperlambat upaya pemadaman.
Hari Konservasi Alam seharusnya menjadi refleksi, bukan hanya seremoni tahunan. Krisis karhutla ini menunjukkan bahwa konservasi tidak bisa hanya jadi urusan aktivis lingkungan atau pemerintah pusat. Diperlukan kolaborasi lintas sektor mulai dari petani, perusahaan, hingga pemerintah daerah untuk memastikan bahwa kebijakan konservasi berjalan, bukan hanya di atas kertas.
BACA JUGA:Bela Hak Alam dan Manusia, Indonesia Bersama Penjaga Hutan Dunia Satukan Suara
Kebakaran seperti ini seringkali berakar dari praktik pembukaan lahan dengan api, metode murah namun sangat merusak yang masih digunakan oleh pelaku perkebunan dan pertanian skala besar maupun kecil. Lemahnya pengawasan, ketidaktegasan hukum, serta insentif ekonomi yang tidak mendukung konservasi menjadi akar masalah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
