Dampak Medsos Bagi Pola Pikir dan Perilaku, Waspada Konsumsi Tontonan Negatif
--
RADARTVNEWS.COM-Di era digital ini, kita menghabiskan berjam-jam setiap hari menatap layar membaca, menonton, menyukai, dan membagikan konten dari media sosial. Tanpa sadar, semua itu menjadi “asupan” harian bagi pikiran dan jiwa kita.
Sering kali kita berpikir bahwa konsumsi hanya berkaitan dengan makanan. Tapi kenyataannya, yang kita konsumsi jauh melampaui apa yang masuk ke perut. Apa yang kita lihat, dengar, dan baca terutama dari media sosial juga ikut membentuk siapa kita, bagaimana kita merasa, dan bagaimana kita bertindak.
Apa yang kita lihat di media sosial bukan hanya hiburan pasif. Saat kita terus-menerus melihat gaya hidup glamor, standar kecantikan tertentu, atau budaya hustle tanpa henti, otak kita mulai menormalkan itu semua. Kita mulai merasa tertinggal, tidak cukup, dan akhirnya ikut mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak selaras dengan nilai diri kita.
Tanpa kita sadari, kita mulai meniru: dari cara berpakaian, berbicara, hingga cara memandang hidup. Jika kita setiap hari melihat konten toxic, penuh drama, atau mempromosikan gaya hidup tidak sehat, lama-kelamaan kita bisa ikut terseret dalam arus itu.
Media sosial menciptakan efek cermin. Kita cenderung menyesuaikan diri dengan apa yang kita lihat terus-menerus. Jika kita terus mengonsumsi konten penuh inspirasi, pengetahuan, dan perspektif positif, maka kita cenderung menjadi pribadi yang lebih terbuka, bijak, dan berdaya.
Sebaliknya, jika yang kita lihat adalah kebencian, polarisasi, atau ketakutan, maka kita pun bisa menjadi pribadi yang cemas, mudah marah, dan mudah terdorong oleh emosi negatif.
Pilih Asupan Pikiranmu dengan Bijak
Sama seperti tubuh membutuhkan nutrisi yang baik, pikiran kita pun perlu diberi asupan yang sehat. Mulailah menyadari:
-Akun apa saja yang sering kamu lihat?
-Apakah kontennya membangun atau justru membuatmu merasa buruk?
-Apakah kamu merasa lebih baik atau lebih buruk setelah membuka media sosial?
Bijak dalam memilih apa yang kita konsumsi di media sosial bukan berarti menutup diri dari dunia, tetapi menciptakan ruang yang sehat bagi pikiran dan perasaan. Kita perlu menjadi “kurator” aktif bagi kehidupan digital kita memilih apa yang pantas untuk dilihat, diikuti, dan diyakini.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
