Mengapa Siswa Blitar Mundur dari Sekolah Rakyat? Ini Alasan di Balik Keputusannya

Mengapa Siswa Blitar Mundur dari Sekolah Rakyat? Ini Alasan di Balik Keputusannya

Siswa Sekolah Rakyat Hadapi Tantangan Hidup Berasrama-generated image -Chat GPT

BLITAR, RADARTVNEWS.COM — Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar menghadapi tantangan adaptasi di awal pelaksanaan pendidikan berasrama. Sejumlah siswa memilih mengundurkan diri setelah merasa belum mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan di asrama yang mengharuskan mereka tinggal jauh dari keluarga.

Kepala Sekolah Rakyat Kota Blitar, Johan Argono, membenarkan adanya siswa yang tidak melanjutkan pendidikan. Mayoritas siswa yang mengundurkan diri berasal dari jenjang Sekolah Dasar (SD), meski terdapat pula siswa jenjang SMP dan SMA. 

Persoalan utama yang muncul bukan terkait kegiatan belajar di kelas, melainkan proses adaptasi dengan pola kehidupan asrama.

Tinggal 24 Jam Jadi Tantangan

Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan berasrama. Bagi sebagian siswa, terutama anak usia SD, pola tersebut berarti harus menjalani aktivitas sehari-hari jauh dari orang tua.

Kondisi itu membuat sebagian siswa membutuhkan waktu lebih panjang untuk beradaptasi.

Johan mengatakan jumlah siswa sempat mencapai 205 orang, kemudian berdasarkan pembaruan data per 18 September 2026 tercatat 189 siswa. Ia menyebut permintaan untuk mengundurkan diri paling banyak berasal dari siswa sendiri, meski ada pula yang berdasarkan permintaan orang tua. 

“Kami sudah mengupayakan beberapa langkah untuk memotivasi mereka agar tetap bertahan. Selain konsultasi dengan wali kelas, guru BK, mereka juga kita coba kirim pulang ke rumah beberapa hari, lalu kita minta kembali ke asrama.” ujar Johan. 

Namun, bagi sebagian siswa, kesempatan pulang sementara tersebut belum cukup untuk membuat mereka kembali merasa nyaman.

Setelah kembali ke asrama, beberapa siswa tetap memilih mengundurkan diri.

BACA JUGA:Sekolah Rakyat Tampung Lebih dari 43 Ribu Anak hingga Agustus

Sekolah Tidak Memaksa Siswa Bertahan

Sekolah Rakyat tidak mengambil langkah dengan memaksa siswa untuk tetap tinggal di asrama.

Pendampingan dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui persoalan yang dihadapi siswa. Konsultasi bersama wali kelas dan guru bimbingan konseling menjadi salah satu cara yang ditempuh sebelum keputusan pengunduran diri diterima.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena kemampuan beradaptasi setiap anak berbeda, terutama ketika harus berpindah dari pola hidup bersama keluarga ke lingkungan pendidikan yang menerapkan kehidupan asrama.

Sekolah Rakyat Tetap Terima Siswa Baru

Di tengah adanya siswa yang mundur, Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar juga tetap melakukan penerimaan peserta didik secara bertahap.

Pada 28 September 2026, sebanyak 27 siswa baru mulai masuk ke sekolah tersebut. Pemerintah Kota Blitar menyebut penerimaan dilakukan bertahap karena karakter pendidikan di Sekolah Rakyat menggunakan sistem asrama dan memiliki jam belajar yang lebih panjang dibandingkan sekolah nonasrama. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan Sekolah Rakyat pada tahap awal bukan hanya soal menyediakan fasilitas pendidikan, tetapi juga memastikan siswa mampu beradaptasi dengan pola kehidupan yang berbeda dari sekolah pada umumnya.

BACA JUGA:Pembangunan Sekolah Rakyat di Lampung Dikebut, Gus Ipul Targetkan Rampung Juni 2026

Adaptasi Jadi Bagian Penting Pendidikan Berasrama

Sebelum program berjalan, Pemerintah Kota Blitar telah melakukan sosialisasi mengenai konsep pendidikan berasrama kepada calon siswa dan orang tua. Pemerintah juga menyediakan pendamping bagi siswa selama berada di asrama. 

Namun, pengalaman siswa setelah benar-benar menjalani kehidupan asrama menunjukkan bahwa proses adaptasi tetap menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Karena itu, pengunduran diri sejumlah siswa tidak hanya menjadi cerita tentang mereka yang memilih keluar. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan tantangan yang harus dihadapi sekolah dalam menjalankan model pendidikan berasrama, terutama bagi anak-anak yang belum terbiasa tinggal jauh dari orang tua.

Bagi Sekolah Rakyat, pendampingan dan komunikasi dengan siswa serta keluarga menjadi bagian penting agar proses adaptasi dapat berlangsung tanpa mengabaikan kondisi psikologis dan kenyamanan anak.

BACA JUGA:Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat, Targetkan 500 Sekolah dan 330 Ribu Smart TV

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: kepala sekolah rakyat kota blitar